14 Juni 2010

Bidadari Tak Pernah Pulang Pagi

Hilal Ahmad
Senin 14 Juni 2010
Ayah bilang, setiap istri adalah bidadari. Tapi ayah tidak pernah menjelaskan, bahwa bidadari tak pernah pulang pagi.


Aku memandangi Arale, putriku yang masih berusia 10 bulan. Wajahnya nampak lucu. Matanya yang lentik sesekali mengedip ke arahku. Gadis kecilku ini baru saja terdiam setelah 15 menit lalu menangis hebat karena lapar.

Mulut mungilnya baru terdiam setelah menyedot susu formula yang kubuatkan dan kutaruh dalm dot botol. Jam dinding yang mengantung tepat di sebelah lemari di kamarku, menunjukkan pukul 11.45 WIB. Sebentar lagi tengah malam. Dan aku hanya berdua dengan Arale buah hatiku. Dan istriku, entah. Aku tak tahu ia berada di mana.

Mataku sangat berat. Dan sepertinya sudah sulit untuk diajak kompromi, pun untuk membuka lima menit saja. Padahal Arale masih asyik mengajakku bermain.

Tidak seharusnya aku begini. Besok pagi aku harus menghadapi setumpuk tugas kantor yang seharusnya kuselesaikan malam ini. Tapi Arale? Harus kuserahkan pada siapa?

Bukan aku tidak percaya untuk memberikan pengasuhan Arale pada orang lain. Tapi aku akan lebih bahagia jika menemani Arale selepas pulang kerja. Pengasuh Arale hanya bekerja sejak pagi sampai sore hari.

Tak perlu menanyakan kemana Ibunya. Karena itu akan membuatku sakit. Menorehkan luka mendalam.
***
Sore itu, aku baru saja mengganti pakaian kerjaku dengan baju santai.
“Aku pulang larut lagi malam ini Man!”

Itu suara istriku. Ia tengah meminta persetujuanku untuk pulang larut malam ini. Oh, bukan. Ia hanya memberitahuku. Atau itu hanya sebagai gertakan bahwa ia akan bekerja hingga larut pada malam ini.

Entahlah, aku enggan meladeninya. Dan untuk entah yang ke berapa kali, aku hanya mengagguk. Entah tanda setuju atau pasrah. Itulah diriku yang dipenuhi kata entah.

Dan tak lama setelah ia melontarkan kalimat itu, ia melenggok di depanku dengan busana yang aduhai. Gaun yang ia kenakan memiliki model dengan potongan leher yang amat rendah, tak berlengan, dan rok sepuluh senti di atas paha. Cukup glamor seperti artis dangdut yang ditanggap di kampung-kampung. Belum lagi parfumnya yang menyengat.

Aku tak berani bertanya ia akan pergi kemana malam ini. Karena aku yakin jawaban yang kudapat pasti sama, pertengkaran. Dan itu sungguh tidak berhasil mengorek apa yang ia lakukan setiap keluar malam.

Hanya kalimat pedas yang kuterima. “Aku kan melakukan ini untuk Arale juga. Kamu bayangkan Man, kalau aku hidup mengandalkan gajimu yang pas-pasan itu, tidak mungkin Arale dapat minum susu formula dan punya pakaian bagus. Lalu siapa yang menggaji si Rokayah buat menjaga anak kamu itu!”

Kalimat itu memang terlontar tiga bulan lalu. Saat aku mulai curiga perubahan sikap istriku yang kerap pulang malam setelah ia mengaku diterima bekerja. Tapi rasa sakit yang ditimbulkan, masih membekas sampai sekarang.

Kalau tahu begitu, menyesal aku mengizinkannya bekerja. Tapi ia juga benar, jika mengandalkan gajiku yang hanya pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa pengiriman, akankah kebutuhan Arale terpenuhi. Mampukah aku membayar Rokayah untuk menjaga Arale saat aku bekerja.

Kepalaku berdenyut. Sebelum migrainku kumat, aku langsung berlari ke kotak obat. Nihil. Aku lupa membeli obat migraine yang biasa kusimpan di kotak persediaan. Belum sempat aku berpikir banyak, saat melewati kamarku Arale menangis keras.

Tak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali aku dan Arale. Rokayah, sejak 20 menit lalu pulang ke rumahnya yang berada di desa tetangga. Sedangkan istriku, baru saja berlalu. Hanya jejak parfumnya saja yang tertinggal.

Ingin rasanya aku menggapai Arale, namun migarin ini semakin menjadi. Kepalaku berdenyut semakin keras. Jantungku berdetak lebih kencang, seakan dua kali lebih keras memompa darah ke semua organ tubuhku. Selanjutnya, aku tak ingat apa-apa. Terakhir kali aku ingat, badanku bergedebum jatuh ke lantai.
***

Saat mataku terbuka, kudapati diriku di atas ranjang bersprei biru. Aku berada di kamarku yang hanya berukuran 4x4 m2. Belum sempat benakku menjawab siapa yang menolongku berbaring ke tempat tidur, suara Rokayah langsung terdengar di telinga.

“Maaf Pak, tadi saya balik lagi ke sini ada barang saya yang tertinggal. Eh taunya liat bapak lagi pingsan deket meja makan. Arale juga nangis. Jadi, saya temenin dulu Arale sampai Bapak bangun.”

Aku hanya mengangguk pelan dan mendengarkan cerita Rokayah. Ya Tuhan, terimakasih telah memberi penyelamat lain. Seharusnya ini adalah tugas bidadariku yang menjaga dan memperhatikan aku dan Arale. Aku mengambil nafas panajng dan menghembuskan nafas berat.

Tak terasa air mataku meleleh. Sebelum Rokayah menyadari, aku langsung mengelapnya kasar.
“Saya tidak apa-apa. Kalau kamu pulang, lebih baik sekarang. Sebelum terlalu malam,” ujarku seraya melirik jam dinding yang menujukkan pukul delapan malam.

Rumah Rokayah berada di Kasemen, kampung sebelah di mana aku tinggal yakni Unyur. Meski jalur rumah kami berada di Jalan Raya Banten Lama, tapi angkutan tidak berkeliaran 24 jam. Dan cukup sulit mencari angkutan umum seperti angkot di atas jam 9 malam. Dan akhirnya Rokayah pamit. Tinggal aku dan Arale.

Malam ini, meski aku sangat letih, aku tetap mengerjakan tugas tambahan, menggantikan Rokayah saat malam. Dan mungkin hingga pagi hari. Karena bidadariku itu baru datang sebelum kokok ayam berbunyi menyambut matahari.

Dan saat ia datang, bukan harum surgawi yang dibawanya. Kadang parfum pria dan bau rokok yang tercium. Dan bahkan bau alkohol kerap terendus dari bibirnya yang mungil.

Terkadang aku merutuki takdir sebagai suami yang bertugas ganda sebagai istri.
****

Aku terjaga saat Arale merengek minta diganti celana. Gadis kecilku ini senantiasa menjadi pelipur lara dan peredam duka. Pun saat pagi buta bidadariku itu pulang ke rumahku. Tentu saja dengan muka masam.

Dan aku enggan melontarkan sepatah katapun. Saat tubuhnya ambruk di ruang tamu sebelum ia berganti baju, aku masih tanpa suara. Saat Arale kembali merengek lagi dan aku membuatkan susu, aku masih bisu.

Bisu memang bukan sifatku. Dulu, Ayahku selalu mengabulkan apa saja yang kuminta. Saat di bangku sekolah dasar, guruku pun selalu kewalahan menjawab lusinan pertanyaan yang menurutnya hanya untuk anak di bangku SMA. Tapi kebiasaan itu terkikis sudah sejak kehadiran bidadari dan gadis kecilku.

Aku masih sangat ingat kalimat yang dilontarkan Ayah dua hari sebelum aku menikah.
“Rumah tangga bukan hanya menyatukan dua cinta, tapi dua ego. Jika setiap hari diisi dengan benci dan amarah, maka tak ada lagi cinta. Yang tersisa hanya puing-puing kehancuran masa depan buah hati kita.”

Aku meresapi benar kalimat itu. Ayahku memang lihai dalam urusan ini. Sejak Ibu pergi meninggalkan kami dengan alasan sudah tidak ada lagi kecocokan, Ayah dengan sabar mendidikku hingga aku mandiri.

Ia pun termasuk tipe pria yang luar biasa. Di saat para pria lain sibuk berselingkuh di balik istri, Ayahku yang duda tetap konsisten dan tidak mau menikah lagi. Ia selalu berujar, seorang yang pandai tentu tidak akan jatuh pada lubang yang sama.

Aku masih mengingat Ayah saat kulihat gadis kecilku tertidur lelap. Haruskah kuputuskan sesuatu. Meninggalkan bidadari yang selalu datang pagi hari demi menjaga perasaanku yang kian hari kian terluka. Lalu jawaban apa yang kuberikan, jika Arale bertanya kemana dan mengapa Ibunya pergi dan meninggalkannya denganku.

Lagipula, akankah aku kuat seperti Ayah, tidak akan menikah lagi. Masih banyak beribu tanya lain yang bergumpal di kepalaku. Sebelum tanya itu bertambah, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku dan mengambil wudhu, menenangkan diri dan berkeluh kesah kepada sang kuasa.
***

Aku siap menyantap menu sarapan pagi saat wanita yang dengan terpaksa kupanggil istri itu membuka mata. Aku mengacuhkannya. Pun saat ia mendekatiku dan maracau beberapa kata.

Dia masih mabuk, batinku. Parahnya dia memanggilku dengan nama lain. Aku yang sejak tadi mencoba menenangkan hatiku, tak mampu lagi mengontrol emosi.

Tanpa kuasa, kucekik lehernya dan kuhempaskan ia ke lantai. Ia mengaduh, serupa bidadari kehilangan nyali. Wangi surgawinya lenyap begitu saja. Hawa neraka menyergap melalui tatapan mata yang menyalang. Aku siap menghadapi ini semua.

Rokayah kuperintahkan untuk membawa Arale pergi ke rumah tetangga.

Aku masih membisu dengan tatapan kaku. Kutatap sosok wanita yang kunikahi dua tahun lalu. Tak ada belas kasihan sedikitpun. Karena sejak pertama biduk rumah tangga ini kurajut, ia nampak tidak peduli.

Hampir setiap malam, sejak malam pengantin, ia merutuki pernikahan ini. Ia menganggapnya sebagai pernikahan sial dan pembawa bencana. Lalu, saat kutanya mengapa ia mau menikah denganku. Dengan lantang ia menjawab, karena mengikuti perintah orangtuanya. Ia pun mengatakan, aku adalah dewa yang dapat mengubah perangai buruknya. Sejak pertengkaran itu, aku tak lagi banyak tanya. Pun saat ia mengaku, mengandung anakku.

Aku semakin bisu, dimulai tiga bulan lalu. Tepat saat ia mengungkit tentang penghasilanku. Dan dengan alasan itu, ia memiliki tiket emas untuk kembali menggeluti dunia malam yang sebelumnya akrab dengan kehidupannya sebelum menikahiku.

Lagi-lagi aku mengenang pernikahanku yang berwajah buram. Aku berniat melangkah menuju pintu keluar.
“Kau selalu bisu, setiap aku melakukan sesuatu!” erangnya. Tubuhnya yang lunglai beranjak berdiri.
“Lalu, apa yang kau mau?” ujarku tanpa membalikkan badan.
“Kau mau aku jadi pembantumu yang menunggui anakmu, sedang kau pergi entah kemana?” aku mulai bersuara banyak. Dua puluh empat bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk berdiam diri. Maafkan aku Ayah, jika suatu saat kau mengetahui perihal ini.
“Ini anak kita Herman!”

Aku membuang muka. “Bukan! Ini anakmu dan aku pembantumu.” Ujarku tanpa intonasi.
“Tapi kau suamiku!” ujarnya bersikeras.

Aku membalik tubuh dan menghampirinya. “Suami! Bisa kau jelaskan di mana kau posisikan aku sebagai suami.”

Ia terdiam.

Sebisa mungkin aku menahan diri. Seperti saat aku melihat video mesum yang diperlihatkan teman sekantorku, berisi dua pria dan seorang wanita tanpa busana. Setiap erangan yang terdengar, sangat menyakitkan. Karena wanita dalam video itu berwajah seperti bidadariku.

Ia masih terdiam.
“Suami bukanlah seseorang yang kau tempatkan sebagai guling anakmu dan robot pembuat susu saat malam ketika ia lelah karena bekerja seharian. Suami pun bukan seseorang yang hanya bisa menghirup parfum sisa setelah istrinya dipakai puluhan orang di jalanan.”
“Cukup Herman!”
“Sudahlah Maria. Aku sudah tahu semua. Juga dengan Arale. Kalau kau keberatan mengasuhnya, biar aku yang merawatnya!”
“Apa maksudmu Herman…” kulihat sang bidadari mendekatiku dengan wajah kusut. Saat ia mendekat dan hendak memelukku, aku memberi jarak.
“Dua tahun waktu yang cukup untuk kebersamaan kita Maria. Terimakasih untuk semuanya.”

Aku melangkah pergi. Meninggalkan bidadari yang tersedu di belakangku.

Aku enggan mencari tahu, apa makna isakan itu. Bahagiakah ia, atau wujud penyesalan. Lagi-lagi entah. Yang kutahu, aku sangat bahagia setelah melihat Arale yang langsung tergelak menatapku saat keluar dari rumah.

Ia memnag bukan darah dagingku, karena seorang pria dua hari lalu mengatakan bahwa Arale adalah anaknya. Dan aku tahu itu karena aku masih sangat ingat, sejak dua tahun lalu, saat memulai mengganti statusku sebagai seorang suami, aku tahu tak akan pernah bisa memberikan keturunan pada Maria.

Aku merasa puas dengan keputusan ini. Sejenak kulupakan wajah Ayah yang tenang di alam sana. Ini hidupku Ayah, dan aku berhak menentukan arah kemana aku melangkah. Selamat tinggal bidadariku. Aku takkan menantimu lagi saat malam berganti pagi. (*)

Serang, 050410

Tidak ada komentar:

Posting Komentar