14 Februari 2009

Gadis Kecil Pembawa Payung

14 Feb 2009
Gadis Kecil Pembawa Payung
Pi Ling

Dengan payung di tangan dia lagi-lagi berjalan berlarian di tengah hujan pagi. Sepasang mata yang indah memandang langit mendung, berkata dia dalam hati:

“Oh, hujan turunlah biar lebih banyak orang yang aku antar, biar lebih banyak uang aku peroleh …”
Tante, biar saya antarkan tante sejenak ya …,” dia berlari menghampiri seorang perempuan yang baru saja turun dari bis, ia memberikan payung kembang besar kepada tante itu untuk dipegang, dan dia mengikutinya dari belakang.

Air hujan membasahi rambutnya yang indah, mengalir di mukanya yang cantik, dan jatuh pada pakaiannya. “Tante, terima kasih, “dia mengambil imbalan setelah disirami air hujan, hatinya menyimpan sejemput kesenangan.

“Om, biar saya antarkan om ya.” Dia lari mendekati seorang laki-laki dewasa yang membawa tas kantor, dan payung kembang besar itu sekali lagi berpindah tangan ke Om itu, diam-diam dia mengikuiti dari belakang, air hujan membasahi rambutnya yang indah, mengalir di mukanya yang cantik dan jatuh pada pakaiannya. “Om, terima kasih …” Sekali lagi dia menerima imbalan setelah disirami air hujan, muka yang dialiri air hujan memancarkan cahaya senyum …

“Nek, biar saya antarkan nenek ya …” dia lari menghampiri seorang nenek tua beruban setelah baru saja dia menyeka air hujan di mukanya. “Cu, kehujanan bisa masuk angin.” Perempuan tua itu menuntunya dengan satu tangan, dan tangan yang lain memegang payung kembang besar itu sambil berkata lembut.

“Nek, mau kemana sepagi ini?” Dia menatap perempuan tua yang baik hati itu dengan matanya yang terang. “Menengok cucu perempuanku yang bandel, kemarin malam ia kena hujan dan demam, betul-betul membuat nenek tua ini cemas sekali...,” nenek tua itu mengomel, mukanya menampakkan kecemasaan.

“Cu, masuk berganti pakaian kering,” Perempuan tua itu menuntunnya memasuki rumah kayu yang dikelilingi pagar hijau, berkata dengan rasa sayang. Si gadis kecil memandang dengan muka yang asing tapi sangat simpatik itu dengan rasa kaget dan rasa terima kasih. “Terima kasih nek.” Dia mengambil payung, cepat-cepat pergi berhujan-hujan.

Dia berpikir buat apa berganti pakaian kering, kehujanan juga basah lagi. “Cu, kok tidak menerima uang dari nenek?”Dia mendengar seruan nenek yang risau. Dia menoleh dan tersenyum tipis kepada nenek yang melambaikan tangannya. “Nek, mana saya dapat menerima uang nenek? Nenek seperti nenek saya yang sangat menyayangi …,” katanya gembira. Dia teringat nenknya sendiri, tapi neneknya sudah lama meninggal.

“Dik antarkan saya,” seorang gadis yang mengenakan blus putih dan rok abu-abu tertawa melambaikan tangan padanya. Payung kini berada di tangan gadis itu dan dia diam-diam mengikutinya dari belakang. Matanya yang terang mulai tampak sayu, dia sedang berpikir apakah dia suatu hari akan berpakaian seragam pergi ke sekolah.

Meskipun dia mendambakan hari itu, tapi dia baru berusia dua belas tahun, baru saja menamatkan sekolah dasar. Apakah akan bisa masuk sekolah menengah pertama masih merupakan “teka-teki”. Kata ibunya, bila uang sekolah tidak cukup diperoleh dia tak kan masuk SMP.

Dia sangat gelisah dan sedih? Sejak kecil dia sudah belajar mencari uang jajan. Di hari-hari tak ada hujan, ia membantu mencuci piring mangkuk dan mengepel di warung tetangga. Di musim hujan ia membawa payung kembang besar milik ibunya, untuk mendapatkan uang.

Dia anak pecinta buku, ibunya pun berharap ia dapat bersekolah beberapa tahun lebih lama. Sedangkan pekerjaan ibunya hanya mendatangkan upah yang kecil menyedihkan, ia tidak bisa menyalahkan ibunya. Alangkah baiknya seandainya ayahnya masih ada . Sayang sekali ayahnya telah tiada, telah berpulang seperti neneknya!

“Sudah sampai Dik.” Dia kaget dan tengadah, baru diketahuinya ia telah berdiri di pintu gerbang sekolah. Ia mengambil alih payung, menyaksikan dengan iri gadis itu berjalan masuk ke ruang sekolah dengan riang.


“Oh hujan, turunlah, biar lebih banyak uang aku peroleh, membantu ibu mengumpulkan uang sekolah.” Dia berjalan di tengah hujan yang turun makin deras. Dia mulai merasa lapar, udara dingin sekali. Dia teringat kata-kata nenek berambut putih itu, kena hujan bisa sakit masuk angin, rasa takut melintas dalam hatinya yang kecil. Namun, ia mengingatkan diri, dia tidak boleh sakit, sesuatu yang akan sangat menyusahkan. Dengan tangannya yang kecil dia menyeka rambutnya yang basah kuyup berulang-ulang, lalu mengenggam rok bawahnya kuat-kuat, berusaha memilin mengeringkan pakaiannya!

“Dik, mari antarkan saya,” seorang ibu muda yang memeluk bayi tidur nyenyak berjalan menghampirinya. Matanya berbinar sesaat, lupa lapar lupa dingin, dengan gembira mengasongkan payungnya.

Hujan deras menyiraminya , wajah mungil yang kurus tampak begitu lelah dan pucat. Ketika dia mengulurkan tangan kecil yang gemetar mengambil imbalan setelah tersiram air hujan, dia mengigil, terasa berada di tengah-tengah tanah bersalju. Dengan susah payah dia menggenggam payung kuat-kuat, seolah-olah payung itu menarik-narik tangannya yang kecil tak berdaya.

Sepertinya dia melihat payung kembang besar itu menjadi kereta angin, mulai berputar, berputar, terus berputar. Angin dingin yang tak henti-hentinya menerpa membuat langkhnya terhuyun-huyun! Payung kembang besar itu akhirnya terlepas dari tangannya, terbang tertiup angin, terjatuh di keremangan, bagai kabut …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar