10 Desember 2014

Kain yang Gagal


Suatu hari Mencius pulang sekolah lebih awal daripada biasanya. Ketika itu ibunya sedang menenun kain. Sembari tetap menenun, ibunya bertanya, “Kenapa pulang cepat Nak?” Mencius menjawab, “Sekolah libur Bu.”

Menyadari Mencius telah berbohong, ibunya serta merta berhenti menenun, lalu berdiri mencari gunting. Begitu didapatkan, tanpa ragu ia menggunting hasil tenunan yang sudah 80% jadi! Padahal itu hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan. 

Mencius terpana, shock.
Kenapa ibu melakukan itu ?!”
Ibunya menjawab dengan kalem, “Mencius, lihatlah. Walaupun sudah 80% jadi, kalau ibu mogok menenun, maka sama saja kain ini tidak jadi. Tidak berguna. Karena “hampir jadi” itu tidak sama dengan jadi. Hasil kerja ibu baru membuahkan hasil, bila ibu kerjakan sampai selesai.”

Mencius meraba-raba ke mana arah pembicaraan Ibunya. Lalu Ibunya melanjutkan, “Demikianlah pula kamu. Engkau belajar tetapi engkau suka membolos, walaupun hanya sehari, maka hasilnya tidak akan maksimal. Tidak akan cukup berharga. Sama saja dengan kain yang baru 80% jadi.”

Menyadari kesalahannya Mencius segera bersujud, paikui, di hadapan ibunya, minta ampun. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. 

Mencius atau Meng Zi (372 SM – 289 SM) adalah filsuf Cina yang dihormati sebagai orang nomor dua setelah Confusius. Pengalaman Mencius ditegur ibunya ini terus dipelihara dalam budaya Cina melalui sebuah pepatah yang berbunyi : Duan ji jiao ze (arti harfiahnya : merusak mesin demi memberi pelajaran kepada anak).   

Sumber : 
Intisari, edisi Oktober 2014
Lentera, Kain yang Gagal, S. Siek Tjay King, dari Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar