14 Desember 2014

Dewi Sartika, Pelita bagi Kaum Wanita


Saya pernah menuliskan riwayat hidup Ibu Dewi Sartika, yaitu ketika saya duduk di kelas 5 SD. Waktu itu saya menuliskannya di kertas double folio bergaris. Pada sebelah kiri atas, saya tempelkan potret Ibu Dewi Sartika dalam balutan baju kebaya dan rambut yang disanggul.
Kali ini saya menuliskan ulang riwayat hidup Ibu Dewi Sartika 10 hari setelah hari ulang tahunnya (4 Desember 1884). Ada hal baru yang saya temukan, ternyata Ayu Raja Permas adalah nama Ibunda Raden Dewi Sartika. Nama beliau dipakai sebagai nama jalan di dekat stasiun kereta api Bogor (Jl. Nyi Raja Permas), sedangkan nama Raden Dewi Sartika  sendiri dipakai sebagai nama jalan di pusat keramaian pasar anyar, atau lebih dikenal sebagai bioskop 21, Dewi Sartika.
Inilah kisah pelita bagi kaum wanita tersebut…

Ibu Raden Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884, ketika ia berumur 10 tahun ia sudah bertekad untuk mengajar membaca dan menulis teman-teman seusianya dan pegawai Kapatihan Cicalengka. Padahal saat itu, ia sedang dititipkan di rumah pamannya, Raden Demang Aria Surakarta Adiningrat, seorang Patih Cicalengka. Ayahnya, Raden Rangga Somanagara sedang diasingkan Belanda di pulau Ternate, Maluku.

Di belakang pendopo kepatihan Cicalengka inilah Ibu Raden Dewi Sartika sempat bersekolah. Ia bersekolah di sekolah khusus anak-anak Belanda dan priyayi, nama sekolahnya adalah Sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse Inlandsche School) di Bandung. Ia sempat bermain sekolah-sekolahan dan mengajarkan teman-teman seusianya dan pegawai kepatihan Cicalengka membaca dan menulis. Betapa hebatnya, Ibu Raden Dewi Sartika (1894), dalam usia  10 tahun itu sudah ikhlas berbagi ilmu membaca dan menulis.  

Pada 16 Januari 1904, ketika Ibu Dewi Sartika berumur 20 tahun secara terang-terangan beliau mendirikan Sakola Istri. Sekolah tersebut bertempat di Paseban Barat Pendopo Bandung. Mendengar kegiatan yang dilakukan Raden Dewi Sartika, seorang Inspektur Hindia Belanda, C. Den Hammer menanyakan kepada beliau apa maksud didirikannya Sakola Istri. Inilah jawaban keren dari Ibu Dewi Sartika. 

“Saya ingin menanamkan kepada perempuan Bumi Putera, sebagai perempuan mereka harus bisa segala-galanya, agar mereka punya rasa percaya diri terhadap kemampuannya dan tidak melulu bergantung pada suami, apalagi pada belas kasihan orang lain,” jawab Ibu Raden Dewi Sartika lantang.”

Atas kesungguhan Ibu Raden Dewi Sartika tersebut Inspektur Hammer, meminta RA Martanagara, bupati Bandung pada saat itu untuk menyediakan ruangan angkatan pertama Sakola Istri, jumlah muridnya 20 orang dengan 3 guru. Setahun kemudian murid Sakola Istri bertambah banyak dan sekolah tersebut dipindahkan ke jalan Ciguriang Kebon Cau. Hingga tahun 1909, sekolah ini meluluskan angkatan pertama dan nama Sakola Istri diubah menjadi Sakola Kautamaan Istri, yang pada tahun 1912 (setelah 8 tahun) jumlahnya menjadi 9 sekolah. 

Atas keberhasilan mendidik dan mengajar, Raden Dewi Sartika dianugrahi 2 kali bintang emas oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ibu Dewi Sartika wafat pada tanggal 11 September 1947 pada usia 61 tahun di Tasikmalaya. Ia dimakamkan di pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, kecamatan Cineam. Namun 3 tahun kemudian makam beliau dipindahkan ke komplek pemakaman bupati bandung yang berada di jalan Karanganyar Bandung  hingga detik ini. Atas jasa-jasa sebagai perintis bagi kaum wanita maka pemerintah RI memberikan penghargaan beliau gelar Pahlawan KemerdekaanNasional dengan SK Presiden RI No. 252 tahun 1966. Umur biologis Ibu Raden Dewi Sartika 61 tahun, namun umur kebaikannya tetap dikenang seperti baru terjadi kemarin, melampaui 128 tahun. Sekarang giliranmu untuk menjadi hebat seperti Ibu Raden Dewi Sartika.    
   
Sumber : 
Pikiran Rakyat, Minggu 14 Desember 2014

Sumber gambar :
https://alive4.beon.co.id/~sejarahr/sejarah-singkat-pramuka/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar