22 Oktober 2009

Mona Sang Penuntut Umum

22 Oktober 2009

Dalam kelengahan saya, Queency (13 bulan) pernah jatuh ketika sedang belajar jalan. Waktu itu kami masih ngontrak di rumah Ibu Yuli, Bojongkerta-dekat SMPN 17 Bogor. Jidat Queency benjol, Mona marah 3 hari 3 malam. “Gua begadang ngipasin Queency semalaman.”

Mona (juga) pernah lengah saat menjaga Queency. Gubrak, Queency jatuh, kena stang sepeda dan bibirnya membentur truk mobil-mobilan, bibirnya berdarah. Saya tidak berlaku sama seperti Mona yaitu marah membabi buta.

“Seorang ibu tak ingin anaknya terluka. Itu suatu musibah yang tak terelakkan.”

Pernah juga ia marah mengatakan ini dan itu yang saya sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan. Menjadi seorang suami dan seorang ayah merupakan proses perjalanan yang panjang. Tidak bisa dituntun hebat dalam satu hari.

Harus ada seni bertengkar. Jika istri mengamuk suami harus mampu mendinginkan. Jika istri menyanyi dan menari, suami haruslah mengambil peran sebagai penonton pertunjukan. Tips lainnya: fokus pada solusi, dan lembutkan suara ketika mengemukakan pendapat, terlarang membentak.

Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, itu yang saya yakini.
Imam Al-Qarny bilang : “Orang yang berjiwa besar menganggap kesalahan besar itu kecil, dan kesalahan kecil itu sebaiknya dilupakan.

Saya terkadang didera kesedihan karena dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya perbuat.
Hal yang sering saya lakukan untuk meredakan kesedihan adalah mengingat Allah dalam setiap tarikan nafas, menyibukkan diri lewat aktivitas fisik (mencuci baju, membuang sampah, nyuci motor, dan sebagainya), dan memaafkan sebelum ia meminta maaf.

Imam Khomeini juga punya satu nasihat bagus : “Jika istrimu kesal, atau ia mengatakan sesuatu padamu karena alasan apapun, atau jika ia berlaku tidak baik. Janganlah mengatakan apa-apa saat itu juga, meskipun seandainya kau benar. Tungggulah hingga ia tenang, baru kemukakan yang ingin kau katakan.”

Saya mempraktikkan hal tersebut dalam seni bertengkar dengan istri saya (Mona).

Tuhan, ajari saya untuk memperbaiki diri dan tuntun langkah saya dalam melakukan hal yang terbaik. Dimendungnya langit Ciawi, saya percaya Tuhan mendengar doa saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar